Bagaimana Para Pemuda di zaman Shalafush Sholih?

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mendidik para sahabat sesuai dengan fitrah dan bakatnya masing-masing, dan menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pondasi dasar. Sehingga terbentuklah generasi sahabat yang memiliki kompetensi yang luar biasa dalam berbagai macam bidang yang menjadikan dienul islam sebagai jalan hidup.

Pendidikan Fitrah membangun umat Islam dengan pengembangan karakter Islam yang kaffah, yang menjadikan Dienul Islam sebagai “Jalan Hidup”, Al-Quran dan Sunnah sebagai panduan dalam menjalankan peran sesuai dengan minat dan bakat setiap individu yang telah diberikan oleh Allah. 

Ali bin Abi Thalib

Masuk Islam saat berusia 10 tahun. Ali tumbuh menjadi pemuda yang matang dan berperan penuh dalam dakwah Islam.


Zaid bin Tsabit

Pemuda Anshor yang masuk Islam umur 11 tahun. Penghimpun kitab suci Al-Qur’an. Ia mampu menguasai berbagai bahasa dalam tempo singkat.

Usamah bin Zaid

Ketika Usia 18 Tahun, Dipercaya Rasulullah untuk memimpin pasukan yang di dalamnya ada sahabat-sahabat ternama. Pasukannya berhasil dengan gemilang mengalahkan tentara Romawi

Sa’ad bin Abi Waqqash

Ketika usia 17 Tahun, Orang yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Ia ditunjuk menjadi panglima kaum Muslim di Irak dalam perang melawan Persia pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Zubair bin Awwam

Usia 15 tahun, Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

Atab bin Usaid

Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada usia 18 tahun

Zaid bin Tsabit

Pemuda Anshor yang masuk Islam umur 11 tahun. Penghimpun kitab suci Al-Qur’an. Ia mampu menguasai berbagai bahasa dalam tempo singkat

“Lalu Bagaimana Pencapaian anak kita saat ini?”

Berdasarkan riset dari Prof. Lan Prichet, mutu pendidikan di Indonesia secara umum, tertinggal 128 tahun dari negara-negara lain

Pendidikan Islam saat ini masih belum mampu membentuk umat yang berkarakter unggul dalam berbagai aspek kehidupan

Pendidikan Karakter Nabawi/ Pendidikan Fitrah

Pendidikan yang memandang bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, yaitu sudah dibekali oleh Allah Ta’ala keimanan, Ke-Islaman dan karakter-karakter/Bakat yang cenderung mencintai kebaikan-kebaikan. Maka seorang Anak BUKANlah sebuah kertas kosong. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha membantu orang tua dalam menumbuhkan Fitrah keimanan, menumbuhkan Fitrah belajar dan menumbukan Fitrah bakat pada diri anak.

Pendidikan Fitrah adalah pendidikan yang berusaha menjaga dan menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ada pada diri anak. Pendidikan Fitrah tidak memaksakan pengetahuan-pengetahuan yang tidak relevan dengan karakter-karakter anak. Setiap anak memiliki Bakat dan keunikannya masing-masing. Pendidikan fitrah menggunakan metode pembelajaran yang telah diwahyukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yaitu bersumber dari Al-Quran dan Hadits-hadits yang Shohih. Pendidikan fitrah adalah Pendidikan yang menjaga dan menumbuhkan 8 fitrah anak yang diberikan Allah semenjak lahir. Delapan Fitrah tersebut antara lain :

FITRAH
KEIMANAN

Kecenderungan manusia untuk beriman kepada Allah. Rasulullah bersabda “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari-Muslim)

FITRAH
BELAJAR

Setiap anak adalah pembelajar yang tangguh, mulai bayi anak belajar dan meningkatkan kemampuannya dari merangkak, berdiri, berjalan hingga mampu berlari.



FITRAH
BAKAT

Potensi keunikan berupa sifat bawaan yang telah Allah tanamkan pada setiap anak sejak pertama kali diciptakan. Maka fokuslah pada kelebihannya bukan pada kelemahanya. Bila fitrah bakat ini tumbuh dengan sempurna maka seseorang dapat menemukan perannya di muka bumi.

FITRAH
PERKEMBANGAN

Segala yang ada di muka bumi memiliki sunnatullah tahapan pertumbuhannya masing-masing yang berkorelasi dengan dimensi waktu dan dimensi kehidupan. Untuk setiap tahapan yang berproses tersebut memiliki cara dan tujuan masing-masing

fitrah
seksualitas

Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

FITRAH
estetika & bahasa

Setiap anak memiliki selera keindahan dan menyukai keindahan, keharmonisan, kesastraan dan semacamnya. Setiap anak sudah dikaruniai kemampuan berbahasa, dari saat lahir anak berbahasa dengan cara menangis ketika dia merasa lapar, merasa haus merasa takut atau merasa tidak nyaman

fitrah
individualitas

Setiap manusia lahir sebagai individu sekaligus makhluk sosial (ketergantungan dengan lingkungan sekitar) . Sosialitas akan tumbuh baik sejak usia 7 tahun, Hal ini bisa dicapai jika individualitas seorang anak tumbuh baik pada usia di bawah 7 tahun

fitrah
jasmani

Setiap anak terlahir dengan fisik yang bergerak aktif dan panca indera yang berinteraksi dengan lingkungan yang membahagiakan anak. Mereka membutuhkan asupan yang sehat di lingkungan yang baik dan bersih.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” (HR. Bukhari-Muslim)